Bisnis Hotel Wisata

Strategi Bisnis Hotel Wisata Saat Sepi

Ingatkah saat covid-19 terjadi pada tahun 2020, mulai Januari hingga April 2020, hampir tak wisatawan domestik berwisata.  Bahkan wisatawan asing pun turun drastis .

Kunjungan wisatawan domestik maupun manca negara turun hampir 30% . Akibatnya hampir 1,58 juta pekerjaan di sektor pariwisata pun berdampak besar.

Terutama okupansi hotel wisata di Indonesia dampaknya sangat jelas sekali.  Menurut data BPS,  bulan Januari, Februari 2020, yang normalnya okupansi hotel wisata sekitar 49,71%.  Begitu pandemi menghampiri,  semua pemesanan kamar hotel turun drastis menjadi 32,24% pada bulan market, pernah sampai 12,7%.

Di tahun 2022 setelah hampir dua tahun tak ada tamu di hotel wisata, akhirnya wisatawan domestic maupun internasional pun mulai berkunjung Kembali ke tempat wisata.  KEbangkitan dari bisnis hotel harus disambut hangat oleh pemilik atau pelaku bisnis hotel.

Meskipun pulihnya bisnis hotel wisata ini belum sepenuhnya seperti kondisi awal sebelum pandemic, pelaku pengusaha bisnis hotel punya beberapa strategi.

Sektor pariwisata sebagai salah satu dari ekonomi kreatif yang jadi tulang punggung nasional, melakukan inovasi, adaptasi, kolaborasi agar sektor pariwisata dan ekonomi kreatif tetap bertahan dalam segala kondisi apa pun.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia telah memiliki tiga strategi untuk diterapkan dalam akomodasi atau hotel di saat pandemi atau endemi:

Strategi 1:  Pivoting

Mengubah strategi bisnis dengan berbagai inovasi .   Kehadiran layanan atau produk baru sekaligus maksimalkan teknologi digital. 

Jadi penawaran yang dilakukan oleh pelaku hotel wisata, bukan sekedar jual kamar hotel saja, tetapi juga memberikan opsi limited meeting.   Bahkan menjalin kerja sama dengan wedding organizer untuk mengadakan pesta pernikahan dengan protokol yang ketat. 

Seluruh acara harus memenuhi persyaratan protokol kesehatan tapi tanpa melupakan kenikmatan dan kebahagiaan pernikahan, dekorasi sederhana dengan catering (biasanya nasabah bisa memilih catering dari luar, tapi saat pandemic diharuskan untuk mengambil catering dari hotel).

Strategi 2:  Positioning

Perubahan mindset bahwa hotel itu sekedar tempat  untuk istirahat saat berlibur menjadi tempat untuk bekerja .   Saat covid-19, banyak pegawai yang diminta bekerja secara WFH (Work From Home).  

Nach tak ada salahnya setelah covid-19 jika WFH masih diterapkan oleh sebagian perusahaan seperti perusahaan teknologi, manfaatkan hotel sebagai akomodasi .

Pelaku hotel pasti punya paket khusus untuk WHF  karena mereka menyediakan tempat menginap dengan persyaratan harus memiliki sertifikat CHSE (Cleanliness, Healthy,Safety, and Environmental Sustainability).     Dengan jaminan adanya CHSE,  wisatawan dapat berlibur dan menginap dengan rasa aman, nyaman dan tetap sehat setelah liburan.

3.Contactless experience

Persyaratan pandemi selain menggunakan masker, juga menjaga jarak satu dengan yang lainnya. Tak ada kontak atau sentuhan secara langsung.  

Strategi tanpa atau minim sentuhan itu dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi digital. Misalnya saat booking hotel, tak perlu harus datang dulu, tetapi dapat melalui layanan booking online.

Untuk makanan pun tak perlu harus datang ke ruang makan untuk makan pagi, siang dan lainnya.  Cukup dengan fasilitas grab and go, membuat wisatawan makin nyaman dan aman , tak ada sentuhan dengan orang lain.

Baca juga : 7 Manfaat Perofesional yang Penting DImiliki

Menyediakan ruang outdoor dan private pool jika tempat memungkinkan. Jadi tantangan bahwa pengunjung atau wisatawan segan untuk mengunjungi hotelwisata karena hotel sebagai tempat publik yang ramai harus merubah mindsetnya.

Pelaku bisnis wisata hotel pun harus secepatnya melakukan dan menerapkan strateginya agar bisnis hotel wisata ini dapat pulih seperti sebelum pandemi.