imposter-syndrome

Kenali 5 Tipe Imposter Syndrome dan Cara Mengatasinya

Keberhasilan naik gaji, naik jabatan adalah prestasi yang sangat menyenangkan.  Apalagi hal itu diperjuangan dengan sangat optimal dengan usaha keras kita.

Namun, ternyata tak semua orang bisa hargai keberhasilan. Orang yang alami Imposter Syndrome justru anggap suatu keberhasilan itu adalah bukan kemampuannya sendiri. Dia tak punya percaya diri bahwa dia punya potensi untuk bisa berhasil untuk menatap masa depannya.

Bahkan menurut salah satu jurnal berjudul “Impostor Phenomenon, Self-Esteem, and Self-Efficacy” oleh Wulandari dan Tjinding,  impostor syndrome memiliki pengertian bahwa orang yang berhasil itu telah “menipu” orang lain.

Akibatnya apa?  Orang yang punya impostor syndrome itu tak pernah merasa dirinya kemampuan dan tidak bisa optimal untuk berhasil . Selalu anggap kecil tentang keberhasilan dan hanya suatu keberuntungan diri saja.

Secara psikologis hal ini sangat kurang baik karena kepercayaan diri sangat rendah dan dia tak pernah puas dengan dirinya sendiri.

Apakah seorang impostor syndrome merupakan mental Illness?

Impostor syndrome bukan merupakan mental illness.  Suatu gangguan mental dimana penderitanya  merasa bahwa keberhasilan itu hanya tipuan semata saja.  Dia dipenuhi oleh kekhawatiran , panic attack sejak masa kecilnya bahkan meragukan dirinya sendiri, apakah aku seorang penipu?  Itulah ciri-ciri dari seorang impostor syndrome.

Apa penyebabnya?

Awalnya berasal dari pencapaian atau keberhasilan seseorang yang oleh seseorang dianggapnya sebagai impostor (penipu).  Rasa itu bertumpuk hingga dia mencapai hasil akademiknya yang tinggi.

Dia meragukan bahwa kemampuan itu tak sebanding dengan yang dimiliki oleh orang lain. Bahkan dia sering membandingkan satu persatu apa yang ada dalam dirinya, kecantikan, kekayaan, nilai akademik, dengan orang lain.

Dia takut untuk tidak bisa mencapai ekspektasi orang lain.  Orang lain yang tidak peduli, tetap dianggap sebagai ancaman.

Bahkan saat orang itu dipuji karena kepandaiannya.  Dia makin takut dan tak percaya diri. Itu bukan dirinya. Dia tak mungkin seperti itu.  Gambaran tentang dirinya sangat tidak baik sama sekali.

5 tipe Impostor Syndrome

Ada 5 tipe tentang pemaknaan pencapaian yang dimiliki oleh impostor syndrome:

Pertama adalah  tipe perfeksional

Seseorang yang memiliki tipe ini pasti punya standar yang sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Saat dia mengalami kegagalan, dia akan mempertanyakan kepada dirinya kenapa hal ini bisa terjadi.


Kedua adalah sang pakar atau ahli

Seseorang yang memiliki  banyak informasi dan pengetahuan. Akibatnya sebelum dia melakukan sesuatu pasti dia sudah riset segala sesuatu dengan sangat detail.

Ketiga adalah si jenius

  Seseorang yang memiliki dan mengandalkan otaknya sebagai hasil kepintarannya. Ketika dia tak juga berhasil melakukan sesuatu yang spektakuler, dia akan merasa skeptis tentang kemampuan otaknya yang berkurang.

Keempat adalah si mandiri  

Seseorang yang memiliki keengganan untuk bekerja sama dengan orang lain. Semua pekerjaan dilakukan sendiri. Jika dia minta tolong orang lain, dianggapnya suatu kegagalan.

Kelima adalah si manusia super

Tak peduli  kata orang, dia selalu bekerja kerja untuk memastikan apa yang diinginkannya harus berhasil dan mendapatkannya sesuai keinginannya.

Bagaimana mengatasi imposter syndrome?

Tiap orang yang memiliki gejala imposter syndrome harus mengakui perasaan mereka sendiri. Apakah perasaan mereka saat itu marah, kecewa, gagal.  Jika sudah mengakui perasaan itu, anggaplah bahwa perasaan itu memang wajar dialami.

Ketika sudah mengetahui perasaan, Langkah berikutnya adalah memahami bahwa tidak ada manusia sempurna di dunia ini. Setiap orang punya  kelemahan dan kekuataan.

Bagi imposter syndrome dapat mencurahkan “uneg” nya dan perasaannya kepada teman dekat, sahabat, keluarga yang memang benar-benar mendukung mereka.

Juga mereka berani melakukan tantangan tentang keraguan yang dihadapi.   Memastikan bahwa saya tak seharusnya ragu atas apa yang telah dicapai, atau apa yang dikaruniakan.   

Semua karunia berupa talenta dan kemampuan itu wajib disyukuri.  Setelah mensyukuri, tentu kita wajib mengoptimalkan kekuatannya dan menerima kekurangan kita.

Baca juga; Melejitkan Potensi Sebagai Social Media Strategist

Apabila kita mendapatkan keberhasilan, anggaplah itu adalah perjuangan dan proses hidup yang kita lewati dengan sangat panjang.  Bukan sekedar suatu keberhasilan instan.

Sumber referensi:

Impostor Syndrome: Ketika kita merasa tidak memiliki Kemampuan

https://lifestyle.kompas.com/read/2022/02/09/090000720/impostor-syndrome–ketika-kita-merasa-tak-memiliki-kemampuan?page=1