Bubble Burst

Bubble Burst : Pengaruhnya di Bidang Ekonomi dan Bisnis

Fenomena yang menghebohkan masyarakat Indonesia, mengenai gelombang Putus Hubungan Kerja (PHK) massal yang dilakukan oleh beberapa startup. Perusahaan rintisan yang mulai banyak terdengar gaungnya, di masa awal pandemik COVID-19 itu mulai bertumbangan. Peristiwa ini membuat kaum awam dan ekonom bertanya-tanya apa penyebabnya. Para ekonom menamakan ini dengan Fenomena Bubble Burst atau ledakan gelembung.

Lalu Apa Sebenarnya Bubble Burst itu?

Di dunia, peristiwa ini bukan terjadi untuk pertama kalinya. Pada tahun 1990an, kejadian ini pernah mengguncang industri internet. Periode itu dikenal dengan sebutan dotcom bubble.

Seperti yang kita tahu, dewasa ini pertumbuhan internet semakin pesat. Bursa saham di Negara industri naik tajam dari segi ekuitas. Industri berbasis internet serta bidang yang berkaitan mengalami pertumbuhan yang pesat.

Perusahaan startup digital dengan cepat bertumbuh meraih kesuksesan. Namun, dengan cepat pula turun hingga hilang dari perindustrian.

Zenius Education startup di Indonesia yang mula-mulanya mem-PHK kurang lebih dua ratus karyawannya. Kemudian, Layanan Keuangan Digital milik BUMN yaitu LinkAja. Proses reorganisasi yang dilakukan berbuntut pemecatan pada karyawannya.

Perusahaan agrikultur (Tanihub) pun ikut terkena gelombang. Penghubung antara petani dengan berbagai jenis pengusaha ini memutuskan hubungan kerja dengan pekerjanya. Ada pula startup di bidang Furniture yang dikenal dengan Fabelio.

Terakhir, JD. ID melaksanakan perbaikan manajemen dan organisasi. Berupaya untuk memperbaiki manajemen tetapi malah berujung PHK, alasan mereka agar bisa ikut beradaptasi dengan dinamika pasar bisnis online di Indonesia.

Baca juga : Manajemen Karir: Manfaatnya bagi Perusahaan, Karyawan, dan Organisasi

Jadi, Apa pengaruh Bubble Burst di bidang ekonomi dan business?

pengaruh bubble burst di bidang bisnis dan ekonomi
Illustration (rawpixel.com)

Gelembung siklus ekonomi ini ditandai dengan naiknya nilai pasar dengan cepat, terutama pada harga aset.

Tentang hal ini, aset diperdagangkan pada perkiraan harga yang melebihi nilai intrinsik aset. Sehingga, bubble burst dapat terjadi bila harga barang naik jauh di atas nilai riil barang tersebut.

Fenomena ini kerap kali dihubungkan dengan adanya perilaku investor. Kenaikan harga atau inflasi yang cepat diikuti oleh penurunan nilai yang cepat atau kontraksi.

Meski penyebab terjadinya gelembung masih menjadi perdebatan para ekonom. Fenomena gelembung pasar ekuitas dan perekonomian tersebut menyebabkan sumber daya berubah ke wilayah yang pertumbuhan ekonominya memiliki kecenderungan yang cepat.

Baca : Ekonomi Digital : Peluang Bisnis dan Tantangannya

Apa Kaitan Bubble Burst dengan PHK Karyawan Startup?

alasan karyawan di phk
Illustrasi (rawpixel.com/McKinsey)

Dalam waktu sepekan beberapa perusahaan startup berbarengan melakukan PHK masalah pada karyawannya. Pakar ekonomi sampai saat ini masih berdebat, sebagian masih menepis fakta bahwa fenomena itu disebut Bubble Burst.

Pasti ada perampingan karyawan, itu semua wajar di sejumlah Startup. Namun, peristiwa yang sedang terjadi ini belum bisa disebut sebagai guncangan luar biasa layaknya yang terjadi pada industri internet di tahun 1990an.

Para pengamat ekonomi, menyebutkan bahwa yang sedang terjadi saat ini masih batas wajar, letupan-letupan kecil masih bisa ditolerir.

Menurut CEO Mandiri Capital yaitu Eddi Danusaputro menjelaskan penyebab terjadinya bubble burst dimulai karena valuasi yang terlalu tinggi. Jika melihat dari kacamata investor valuasi ada pada startup dianggap terlalu berlebihan.

Eddi menjelaskan kembali, bahwa valuasi dalam beberapa tahun terakhir cukup tinggi. Valuasi seharusnya dibuat lebih masuk akal, dengan Liquidity Crunch. Efisiensi yang terjadi di kebanyakan Startup saat ini merupakan sesuatu yang positif.

Lalu, Apa Alasan Startup Melakukan PHK?

Dilansir dari Suara.com, Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara, setidaknya ada lima penyebab startup melakukan PHK.

1.  Produk yang ditawarkan e-commerce kalah saing dengan rivalnya hingga kehilangan pangsa pasarnya secara substansial.

2.  Persaingan mendapatkan gelontoran dana baru karena investor saat ini lebih selektif pilah-pilih startup yang disirami dana.

3.  Faktor ekonomi global yang sedang berada di titik ketidakpastian, menyebabkan investor berpikir ulang untuk menanamkan modalnya ke startup dan e-commerce.

4.  Pasar mulai jemu dan tidak lagi percaya dengan promo dan diskon. Sehingga bila aplikasi tidak memberikan diskon maka pengguna akan menurun drastis. Budaya mencoba layanan aplikasi yang tergiur oleh promo sudah mulai berakhir.

5.  Pelonggaran aturan oleh pemerintah menjadi alasan terpenting juga. Sebab, orang lebih suka berbelanja ke toko fisik.

Pada situasi saat ini, perombakan strategi perlu diadakan untuk survive. Mengevaluasi ulang target pasar serta mengubah bisnis model bila prospek pasar tidak lagi kompetitif.

Bhima juga mengatakan, Tidak perlu terburu-buru, perlu menurunkan target pertumbuhan secara wajar. Mengutamakan manajemen tim yang stabil daripada fokus dengan tujuan mencari  pendanaan tetapi produk tidak dilirik dipasaran. Mengutamakan revenue stream juga kualitas Cashflow. Sebab, itulah yang diincar oleh investor saat ini. (IG).

Baca : 4 Rekomendasi Film Bisnis dan Finansial Terbaik