Filosofi Teras: Mental Tangguh Masa Kini

Book seller yang mengajarkan kepada kita semua untuk jadi manusia tangguh tanpa harus sakit mental. Caranya buang emosi negatif. Filosofi Teras membantu kita mengatasi emosi negatif dan hasilkan mental yang tangguh.

dokumen pribadi: https://www.inatanay.com

Hidup tak pernah mulus.  Kadang mudah dijalani, kadang sulitnya luar biasa.  Ingin bekerja di perusahaan yang mapan dan kerja yang bisa menunjang karir.  Sayangnya, tak semudah impian. Mental tangguh saat hadapi kesulitan yang tak terduga datangnya.

Air mata perempuan muda itu  terus mengalir di depan seorang ibu paruh baya.  Tangisannya disambut oleh airmata ibunya.  Airmata bak sungai tak hentinya mengalir deras tanpa henti.  

Bukankah hidup ini memang keras?  Perempuan paruh baya itu ingin menunjukkan empati kepada anak yang dikasihinya.  Namun, tak ada solusi dari kesulitan hidup, PHK yang mendadak kecuali kita bergerak, mencari jalan keluar untuk mendapatkan pekerjaan baru.  Tangisan bukan solusinya.

Membaca buku Filosofi Teras karya  Henry Manamping yang jadi Nasional Bestseller, dicetak ulang hingga cetakan ke-25 sungguh merupakan buku yang bisa menjadi bekal untuk mental tangguh masa kini.

Ada 12 bab yang bisa dibaca mulai dari bab satu “Masalah Khawatir bukan Masalah di Pikiran saja”, bab dua  “Sebuah Filosofi Realistis”, bab tiga “Hidup Selaras dengan Alam”, Bab empat “Dikotomi kendali”, Bab lima “Mengendalikan Interpretasi dan Persepsi”, bab enam “Memperkuat Mental”, bab tujuh “Hidup di antara Orang yang Menyebalkan”, bab delapan “Menghadapi Kesusahan dan Musibah”, bab Sembilan “Menjadi Orang Tua”, Bab Sepuluh “Citizen the Word”, Bab Sebelas “Tentang Kematian”, dan terakhir bab dua belas “Penutup”.

Saya lebih baik mengambil 2 bab yang relevan dengan mental yang tangguh.

BAB 4: DIKOTOMI KENDALI

“Some things are up to us, some things are not up to us”

Diterjemahkan:  Sesuatu ada dalam kendali kita , sesuatu tidak ada dalam kendali kita.

Anak milenial yang baca teks tentang Filosofi Teras, dengan kalimat dari Epicctetus di atas akan mengomel keras karena kalimat semacam itu mudah dipahami, tapi tidak mudah dilaksanakan. Tapi pertanyaan berikutnya apakah kamu memang tahu, sekedar pernah mendengar atau merasa mendengar dan merasa tahu dan mendalami dan menerapkannya.

Prinsip dari “Dikotomi kendali” yang dikenal oleh filsuf Stoa menyetujui prinsip fundamental bahwa ada hal di dalam hidup yang bisa kendalikan dan ada yang tidak. Hal-hal yang termasuk dalam kategori keduanya adalah sebagai berikut ini:

Tidak di bawah kendali kita:

  1. Tindakan orang lain (kecuali dia tentunya berada dalam ancaman kita)
  2. Opini orang lain
  3. Reputasi/popularitas kita
  4. Kesehatan kita
  5. Kekayaan kita
  6. Kondisi saat kita lahir
  7. Segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan seperti cuaca, gempa bumi, peristiwa alam

Ada di bawah kendali kita

  1. Pertimbangan (judgement), opini, atau persepsi kita
  2. Keinginan kita
  3. Tujuan kita
  4. Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita

Intinya segala sesuatu yang ada dalam kendali kita bersifat merdeka, tidak terikat, tidak terhambat tetapi sebaliknya hal yang di luar kendali kita bersifat lemah bagai budak, terika, milik orang lain. 

Baca juga: Raih Sukses, Miliki Self Awareness! Inilah Caranya

Jadi jika itu milik orang lain, jangan anggap sebagai milikmu agar kita tidak meratap apabila milik orang lain itu diambil kamu tidak usah meratap.

BAB 6: MEMPERKUAT MENTAL

Dalam filosofi Teras ditemukan orang yang menjalankan hidup dengan praktik Stoisisme kemampuan untuk hanya menerima saja tetapi bahkan menikmati.

Hidup harus selaras dengan alam, menggunakan nalar dan hidup yang ada dalam kendali kita, sumber emosi negatif bukanlah peristiwa dalam hidup tetapi persepsi kita sendiri atas peristiwa tersebut.

Premeditatio Malorium: Sebuah “Imunisasi” Mental atau Mental Tangguh

Kali ini kita mendengar suatu paradoks dari tips yang disebut dengan “Premeditatio Malorum” artinya pikirkan hal-hal yang jahat/negatif yang mungkin terjadi. Contohnya sesuatu yang enak terjadi orang tidak tahu terima kasih, dikhianati, egois dan lainnya, terkena macet parah, terlambat ke kantor, ban kempes.

Lho, terus kenapa negative thinking?  Hal ini mirip sekali dengan imunisasi. Dalam imunisasi kita memasukan kuman yang siap dilemahkan. Tujuannya agar sistem kekebalan kita dapat melawan kuman yang datang.  Dengan menstimulasikan yang buruk terjadi, kita sedang mempersiapkan “kekebalan mental” 

Baca juga : Sukses di Dunia Kerja Terapkan integritas

JANGAN RIBET

Kamu mendapatkan timun pahit?  Buang saja! Jangan menuntut penjelasan, kenapa hal yang tidak menyenangkan terjadi? Lihatlah di tempat tukang kayu, kamu pasti kaget banyak sampah dan debu di tempat kerjanya.

Filosofi Teras mengajarkan jangan memperbesar persoalan, fokus pada yang bisa dilakukan. Marcus Aurelius menyampaikan bahwa pada dasarnya hidup itu memang penuh dengan hal-hal yang tidak enak, itu sudah fakta.

Sumber referensi:

Buku “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring